Selasa, 15 Oktober 2013

Sampah Organik sebagai Bahan Baku Biogas

Sejarah penemuan biogas melalui proses anaerobik digestion telah tersebar dibenua Eropa. Penemuan ilmuan Alessandro Volta terhadap gas yang dikeluarkan dirawa-rawa terjadi pada tahun 1770, beberapa dekade kemudian Avogadro mengidentifikasikan tentang gas Methana. Setelah tahun 1875 dipastikan bahwa biogas merupakan produk dari proses anaerobik digestion. Tahun 1884 Pateour melakukan penelitian tentang biogas menggunakan kotoran hewan. Era penelitian Pasteour menjadi landasan untuk penelitian biogas hingga saat ini.

Biogas merupakan sumber energi dalam bentuk gas yang dihasilkan oleh mahluk hidup, seperti bakteri, atau mikroorganisma. Biogas dibuat dari bahan-bahan yang hampir tidak lagi berguna bagi manusia, bahan yang sudah dibuang, yaitu sampah organik seperti  limbah hasil pertanian atau limbah hasil peternakan. Komposisi dari biogas adalah 50-55% Metana (CH4), 25-45% Karbon Dioksida (CO2), 0-0,3% Nitrogen (N2), 1-5% Hidrogen Sulfida (H2S), dan 0,1-0,5% Oksigen (O2).

Konsep merubah sampah organik menjadi biogas termasuk dalam 3R (Reuse,Reduce,Recycle). 3R sampai sekarang masih menjadi cara terbaik dalam mengelola dan menangani sampah dengan berbagai permasalahannya. Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Dan Recycle berarti mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.

Secara ilmiah, biogas yang dihasilkan dari sampah organik adalah gas yang mudah terbakar (flammable). Gas ini dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam kondisi tanpa udara). Umumnya, semua jenis bahan organik bisa diproses untuk menghasilkan biogas. Tetapi hanya bahan organik homogen, baik padat maupun cair seperti kotoran urin hewan ternak yang cocok untuk sistem biogas sederhana. Diperkirakan ada tiga jenis bahan baku yang prospektif untuk dikembangkan sebagai bahan baku biogas di Indonesia, antara lain kotoran hewan dan manusia, sampah organik, dan limbah cair.

Secara garis besar sampah dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu anorganik, organik, dan khusus. Dari seratus persen sampah, yang dapat dimanfaat menjadi biogas hanya 69 persennya, yang terdiri dari 42 persen sampah organic dan 27 persen sampah sisa makan. Berdasarkan hasil penelitian, pembuatan biogas dari sampah organik menghasilkan biogas dengan komposisi metana 51,33--58,58% dan gas CO. 41,82--48,67%. Percampuran sampah organik tersebut dengan kotoran hewan dapat meningkatkan komposisi metana dalam biogas.

Limbah cair merupakan sisa pembuangan yang dihasilkan dari suatu proses yang sudah tidak dipergunakan lagi. Kegiatan-kegitan yang berpotensi sebagai penghasil limbah cair antara lain kegiatan industri, rumah tangga, peternakan, dan pertanian. Pengolahan limbah cair untuk biogas dilakukan dengan mengumpulkan limbah cair dalam digester anaerob yang diisi dengan media penyangga yang berfungsi sebagai tempat melekatnya bakteri anaerob.

Pada aplikasinya biogas dapat digunakan untuk subsitusi atau campuran bahan bakar yang berasal dari bahan bakar fosil. Namun pada skala kecil, biogas digunakan sebagai bahan alternatif untuk proses pemanasan, seperti untuk memasak. Artinya biogas dapat dimanfaatkan dan dibakar seperti elpiji, minyak tanah, atau kayu bakar. Hal ini didasarkan pada beberapa kelebihan yang dimiliki oleh biogas seperti: menghasilkan nyala api yang berwarna biru, menghasilkan panas yang sama dengan LPG, tidak beracun, tidak berbau, dan tidak menghasilkan jelaga.

Dalam skala besar biogas dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk pembangkit tenaga listrik. Di sini, energi dari biogas dikonversi menjadi energi listrik. Biogas dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk menggantikan peran minyak tanah, LPG, butana, batu bara, maupun bahan-bahan lain yang berasal dari fosil.
Dengan demikian biogas merupkan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan terbarukan. Biogas menjadi sumber energi yang dapat diperbarui, karena sampah organik, kotoran hewan dan manusia serta limbah cair selalu tersedia setiap saat. Hal ini berbeda dengan bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batu bara, gas elpiji, bensin atau solar yang suatu saat akan menjadi langka dan habis.

SUMBER :

Sampah Organik sebagai Bahan Baku Biogas

Sejarah penemuan biogas melalui proses anaerobik digestion telah tersebar dibenua Eropa. Penemuan ilmuan Alessandro Volta terhadap gas yang dikeluarkan dirawa-rawa terjadi pada tahun 1770, beberapa dekade kemudian Avogadro mengidentifikasikan tentang gas Methana. Setelah tahun 1875 dipastikan bahwa biogas merupakan produk dari proses anaerobik digestion. Tahun 1884 Pateour melakukan penelitian tentang biogas menggunakan kotoran hewan. Era penelitian Pasteour menjadi landasan untuk penelitian biogas hingga saat ini.

Biogas merupakan sumber energi dalam bentuk gas yang dihasilkan oleh mahluk hidup, seperti bakteri, atau mikroorganisma. Biogas dibuat dari bahan-bahan yang hampir tidak lagi berguna bagi manusia, bahan yang sudah dibuang, yaitu sampah organik seperti  limbah hasil pertanian atau limbah hasil peternakan. Komposisi dari biogas adalah 50-55% Metana (CH4), 25-45% Karbon Dioksida (CO2), 0-0,3% Nitrogen (N2), 1-5% Hidrogen Sulfida (H2S), dan 0,1-0,5% Oksigen (O2).

Konsep merubah sampah organik menjadi biogas termasuk dalam 3R (Reuse,Reduce,Recycle). 3R sampai sekarang masih menjadi cara terbaik dalam mengelola dan menangani sampah dengan berbagai permasalahannya. Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Dan Recycle berarti mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.

Secara ilmiah, biogas yang dihasilkan dari sampah organik adalah gas yang mudah terbakar (flammable). Gas ini dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam kondisi tanpa udara). Umumnya, semua jenis bahan organik bisa diproses untuk menghasilkan biogas. Tetapi hanya bahan organik homogen, baik padat maupun cair seperti kotoran urin hewan ternak yang cocok untuk sistem biogas sederhana. Diperkirakan ada tiga jenis bahan baku yang prospektif untuk dikembangkan sebagai bahan baku biogas di Indonesia, antara lain kotoran hewan dan manusia, sampah organik, dan limbah cair.

Secara garis besar sampah dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu anorganik, organik, dan khusus. Dari seratus persen sampah, yang dapat dimanfaat menjadi biogas hanya 69 persennya, yang terdiri dari 42 persen sampah organic dan 27 persen sampah sisa makan. Berdasarkan hasil penelitian, pembuatan biogas dari sampah organik menghasilkan biogas dengan komposisi metana 51,33--58,58% dan gas CO. 41,82--48,67%. Percampuran sampah organik tersebut dengan kotoran hewan dapat meningkatkan komposisi metana dalam biogas.

Limbah cair merupakan sisa pembuangan yang dihasilkan dari suatu proses yang sudah tidak dipergunakan lagi. Kegiatan-kegitan yang berpotensi sebagai penghasil limbah cair antara lain kegiatan industri, rumah tangga, peternakan, dan pertanian. Pengolahan limbah cair untuk biogas dilakukan dengan mengumpulkan limbah cair dalam digester anaerob yang diisi dengan media penyangga yang berfungsi sebagai tempat melekatnya bakteri anaerob.

Pada aplikasinya biogas dapat digunakan untuk subsitusi atau campuran bahan bakar yang berasal dari bahan bakar fosil. Namun pada skala kecil, biogas digunakan sebagai bahan alternatif untuk proses pemanasan, seperti untuk memasak. Artinya biogas dapat dimanfaatkan dan dibakar seperti elpiji, minyak tanah, atau kayu bakar. Hal ini didasarkan pada beberapa kelebihan yang dimiliki oleh biogas seperti: menghasilkan nyala api yang berwarna biru, menghasilkan panas yang sama dengan LPG, tidak beracun, tidak berbau, dan tidak menghasilkan jelaga.

Dalam skala besar biogas dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk pembangkit tenaga listrik. Di sini, energi dari biogas dikonversi menjadi energi listrik. Biogas dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk menggantikan peran minyak tanah, LPG, butana, batu bara, maupun bahan-bahan lain yang berasal dari fosil.
Dengan demikian biogas merupkan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan terbarukan. Biogas menjadi sumber energi yang dapat diperbarui, karena sampah organik, kotoran hewan dan manusia serta limbah cair selalu tersedia setiap saat. Hal ini berbeda dengan bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batu bara, gas elpiji, bensin atau solar yang suatu saat akan menjadi langka dan habis.

SUMBER :